Listrik merupakan persoalan krusial saat ini bagi warga Medan. Pemadaman sengaja listrik oleh Pe El En Medan memang sudah kelewatan. Satu hari bisa tiga kali padamnya. Nggak pagi, nggak siang, nggak malam buta, pokoknya suka-suka si Pe El En lah.... Kalah waktu minum obat...
Dan kejadian ini, sudah hampir satu bulan sejak September 2013 lalu... Nggak peduli tuh si Pe El En, meski mentrinya Dahlan Iskan sudah wanti-wanti agar Pe El En Medan ambil langkah darurat untuk memberikan listrik ke warga Medan. Mentrinya aja nggak di gubris, apalagi macam awak ini....
Biar udah diberitakan di tv dan koran, tetap aja listrik si Pe El En mati.... mati... idup bentar... mati lagi....
Heran juga lihat kinerja perusahaan monopoli listrik negara ini. Kalo ada sambungan baru pasti dilayani... Tapi kapasitas dukungan energinya jalan kaya siput... Kayanya perlu judicial review undang-undang listrik, supaya praktek monopoli yang nggak becus ngurusin listrik buat rakyat bisa di bagi-bagi ke perusahaan lain yang lebih professional.
Listrik oh listrik... kapan bisa normal listrik di Medan???
Kamis, 03 Oktober 2013
Kamis, 26 September 2013
Berburu Tanah Tembung
Medan, ibukota Provinsi Sumatera ini punya segudang cerita. Bagi penduduk Medan saat ini, persoalan tanah untuk membangun rumah pasti bikin pusing. Tentu pusing bagi yang kantongnya pas-pasan (kaya saya ini hehehehe). Bayangin saja, untuk harga tanah kaplingan disekitaran pinggiran Kota Medan aja angkanya sudah 6 juta rupiah permeter. Apa lagi daerah pusat kota atau sekitar pusat ekonomi, harganya dijamin lebih deh.
Mengingat hal tersebut di atas (caile...) tanpa berputus asa, saya coba berburu mencari tanah didaerah pinggiran Kota Medan. Sore tadi, saya menuju daerah Pasar IV Tembung. Tepatnya di jalan Rahayu. Berdasarkan info intelejen, didaerah ini ada dijual tanah kaplingan.
Ternyata, perburuan hari ini tidak sia-sia. Tanah kaplingan ukuran 10 kali 20 meter dibanderol dengan harga 25 juta rupiah aja. Masih tersisa sekitar 20 kaplingan lagi. Kalo dihitung-hitung, harga permeternya cuma 125 rebu, plus biaya akta notaris buat bikin akta jual beli. Memang belum sertipikat hak milik, tapi sebanding dengan harganya. Apa lagi kalo udah dibuat SHMnya, dijamin harga akan langsung naik paling murah 650 rebu permeternya. Ayo monggo sapa mau....
Berdasarkan hasil padangan mata, lokasi tanah tidak terlalu jauh dari Jalan Denai atau daerah Amplas. Lokasi dari jalan Denai dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang 15 menit. Kalo mau ke Bandara Kuala Namu, lebih dekat lagi dibandingkan kalo kita berangkat dari daerah Medan Baru, Gajah Mada, hehehehe.... Sabtu depan, janjian dengan notaris untuk lihat lagi sekaligus janjian kasih depe kalo cocok...
Mengingat hal tersebut di atas (caile...) tanpa berputus asa, saya coba berburu mencari tanah didaerah pinggiran Kota Medan. Sore tadi, saya menuju daerah Pasar IV Tembung. Tepatnya di jalan Rahayu. Berdasarkan info intelejen, didaerah ini ada dijual tanah kaplingan.
Ternyata, perburuan hari ini tidak sia-sia. Tanah kaplingan ukuran 10 kali 20 meter dibanderol dengan harga 25 juta rupiah aja. Masih tersisa sekitar 20 kaplingan lagi. Kalo dihitung-hitung, harga permeternya cuma 125 rebu, plus biaya akta notaris buat bikin akta jual beli. Memang belum sertipikat hak milik, tapi sebanding dengan harganya. Apa lagi kalo udah dibuat SHMnya, dijamin harga akan langsung naik paling murah 650 rebu permeternya. Ayo monggo sapa mau....
Berdasarkan hasil padangan mata, lokasi tanah tidak terlalu jauh dari Jalan Denai atau daerah Amplas. Lokasi dari jalan Denai dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang 15 menit. Kalo mau ke Bandara Kuala Namu, lebih dekat lagi dibandingkan kalo kita berangkat dari daerah Medan Baru, Gajah Mada, hehehehe.... Sabtu depan, janjian dengan notaris untuk lihat lagi sekaligus janjian kasih depe kalo cocok...
Langganan:
Postingan (Atom)